Sebanyak 15 suku terasing orang asli Papua masih mengembara di kawasan Mamberamo, Kabupaten Intan Jaya hingga kawasan Waropen, Kabupaten Waropen dengan kondisi kehidupan yang memprihatinkan. Koordinator Tim Penginjilan dari Gereja Kemah Injili Papua (GKIP), Pdt.Yosia Mirip dalam keterangannya kepada pengurus WMF(Walele Mercyfull Foundation), menuturkan, ke-15 suku terasing ini memiliki postur badan tinggi, hidung mancung berkulit hitam bercampur sawo matang. Kehidupan mereka nomaden (berpindah-pindah) dengan menokok sagu dan berburu binatang untuk dikonsumsi.
Pondok huniannya dibuat dari kayu bulat kecil-kecil beratap sagu, berlantai gagar nibung dan pelepah sagu. Kaum lelaki dan kaum perempuan mengenakan kulit kayu sebagai pengganti pakaian menutupi bagian dengan alat vital, sementara di belakangan pantat telanjang.
Simon mengemukakan, penciumannya yang tajam sebagai alat untuk mengetahui orang atau binatang buruan. Ketika mereka merasa ada orang luar di dekat alam kehidupan mereka, mereka berlari menyembunyikan diri di tempat yang dianggap masih sakral dan misteri.
Jumlah suku terasing cukup banyak, namun pemerintah belum melakukan identifikasi jumlah dan berbagai latar kehidupan lainnya. Para suku terasing itu hidup secara nomaden dari satu lokasi ke lokasi lain dalam hutan belantera Papua.
Mereka mendirikan pondok-pondok sembari menebang sagu. Setelah menokok habis sagu untuk dimakan, mereka juga membawa sagu itu sebagai bekal dalam perjalanan untuk mencari pohon sagu yang lain serta berburu bintang hutan seperti kasuari, babi hutan, kuskus pohon dan berbagai jenis reptilia.
Seluruh warga terasing itu tinggal di pohon-pohon dan dusun sagu yang tidak bisa dijangkau orang luar seperti misionaris, para peneliti maupun aparat pemerintah. Mereka dililit buta huruf, baik , menulis, membaca maupun berhitung) dan mereka hanya berbicara dalam bahasa ibunya.
Oleh karena itu, Bapak Pdt. Yosia Mirip berharap berbagai Misi Yayasan yang terbeban untuk menjangkau suku-suku terasing pedalaman papua yang hidup terisolasi di kawasan Mamberamo hingga kawasan Walele itu.
Sementara itu data pada Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK) Provinsi Papua menyebutkan masih terdapat 14 titik di Provinsi Papua dan Papua Barat yang dihuni warga suku terasing, namun jumlah sukunya pun belum dipastikan, sebab pada umumnya mereka tinggal di daerah pegunungan, lembah dan rawa-rawa, sehingga sulit untuk diidentifikasi penanganannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar