Minggu, 19 Juli 2009

A blessing in disguise

Matius: 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

PROFIL WMF

WMF (Walele Mercyfull Foundation) merupakan sebuah Yayasan Social yang bersifat umum, tidak berhaluan politik serta tidak mencari keuntungan. Oleh karena itu Walele Mercyfull Foundation merupakan wadah berkumpulnya para pendidik maupun pemerhati di bidang Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat. Membina rasa kekeluargaan dan kebersamaan serta meningkatkan Sumber Daya Manusia dan kesejahteraan Masyarakat Ekonomi Lemah merupakan sebagaian dari tujuan dibentuknya Yayasan ini. Diharapkan dengan demikian akan memberi nilai tambah bagi lingkungan masyarakat atau pendidikan formal dan nonformal bagi generasi muda pedalaman Papua. WMF (Walele Mercyfull Foundation) telah secara resmi berdiri pada tanggal 11 Juli 2009. Peresmian dan sekaligus pelantikan pengurus WMF, pada hari yang sama bertempat di Timika. Maka atas kesepakatan bersama, dibentuklah Dewan Pengurus Walele Mercyfull Foundation orang yang akan melanjutkan roda organisasi. Dewan Pengurus ini terdiri dari: Edyson A Wandik, Yunus Murib, S.E, Yakobus Mirip S.E. Dewan Pengurus ini disepakati bertugas hingga waktu yang tidak ditentukan.

Sabtu, 18 Juli 2009

Berjuang Demi Suku Terasing

Pdt. Yosia Mirip

Ketabahan dan kegigihan menjadi kunci keberhasilan. Selama 10 tahun menjangkau suku terasing di tempat terpencil pedalaman Mamberamo.

TERIK mentari yang menerpa udara Walele, persisnya di kawasan Mamberamo, tak mengurangi rasa haru dan bahagia Pdt. Yosia Mirip. Keharuan membuncah di dada pria kelahiran Nabia, 12 Maret 1960 ini. Pdt. Yosia haru saat mengenang jalan panjang dan berliku sebagai hamba Tuhan. Masih tergambar jelas masa-masa sulit kali pertama ia diangkat jadi Ketua Tim Penginjilan pada 1998.

Pdt. Yosia Mirip yang tinggal di tanah kelahirannya, kampung Walele, Kecamatan Nabia, Kabupaten Intan Jaya, ketika melanjutkan pendidikan Theologi Water Post di Kota singkong Nabire, beliau mesti bolak-balik dari Nabire ke Pedalaman Mamberamo menempuh perjalanan hampir 5 hari 5 malam.

Sepuluh tahun lamanya Pdt. Yosia Mirip, bergumul dan bolak balik walaupun perjalanan kaki memakan waktu lima hari lamanya, syukur karena Kemurahan hati Allah beberapa masyarakat suku terasing bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru slamat pribadi mereka.

Kampung walele adalah yang sebagian besar dihuni masyarakat dari suku terasing yakni suku Bulibala. Masyarakat Bulibala kebanyakan tidak memiliki agama dan masih menganut animisme. “Mereka masih primitif. Secara administratif, tertulis mereka tidak beragama,” kata Pdt. Yosia Mirip sambil duduk menjangkau suku terasing, lihat Gbr diatas.

Meski penuh tantangan, Pdt. Yosia Mirip tetap bersemangat. ”Karena kegigihan, perjuangan dan kesabaran, semua tantangan bisa teratasi. Saya anggap sebagai ujian melihat sejauh mana kesabaran saya,” ungkapnya bijak.Pagi-siang, malam suka dan duka tidak menydutkan semangatnya, ia rela berjalan kaki menuju lokasi (Mamberamo), yang berjarak sekitar 150,000 kilometer dari kota Nabire.

Pdt. Yosia Mirip, berharap pihak-pihak yang terbeban/ peduli pada nasib masyarakat suku terasing didaerah-daerah terpencil tersebut bisa mendukung atau membuka pos pelayanan di daerah.

Banyak hal hanya satu yang kami sangat mengganjal di benaknya dan menjadi pergumulan selama ini, yaitu membutuhkan Dua unit Sensor serta bahan makanan dan obat-obatan untuk mendukung kegiatan penebangan/membuka lapangan terbang.

Di Pedalaman Mamberamo, 15 Suku Terasing masih Mengembara

Sebanyak 15 suku terasing orang asli Papua masih mengembara di kawasan Mamberamo, Kabupaten Intan Jaya hingga kawasan Waropen, Kabupaten Waropen dengan kondisi kehidupan yang memprihatinkan. Koordinator Tim Penginjilan dari Gereja Kemah Injili Papua (GKIP), Pdt.Yosia Mirip dalam keterangannya kepada pengurus WMF(Walele Mercyfull Foundation), menuturkan, ke-15 suku terasing ini memiliki postur badan tinggi, hidung mancung berkulit hitam bercampur sawo matang. Kehidupan mereka nomaden (berpindah-pindah) dengan menokok sagu dan berburu binatang untuk dikonsumsi. Pondok huniannya dibuat dari kayu bulat kecil-kecil beratap sagu, berlantai gagar nibung dan pelepah sagu. Kaum lelaki dan kaum perempuan mengenakan kulit kayu sebagai pengganti pakaian menutupi bagian dengan alat vital, sementara di belakangan pantat telanjang. Simon mengemukakan, penciumannya yang tajam sebagai alat untuk mengetahui orang atau binatang buruan. Ketika mereka merasa ada orang luar di dekat alam kehidupan mereka, mereka berlari menyembunyikan diri di tempat yang dianggap masih sakral dan misteri.

Jumlah suku terasing cukup banyak, namun pemerintah belum melakukan identifikasi jumlah dan berbagai latar kehidupan lainnya. Para suku terasing itu hidup secara nomaden dari satu lokasi ke lokasi lain dalam hutan belantera Papua.

Mereka mendirikan pondok-pondok sembari menebang sagu. Setelah menokok habis sagu untuk dimakan, mereka juga membawa sagu itu sebagai bekal dalam perjalanan untuk mencari pohon sagu yang lain serta berburu bintang hutan seperti kasuari, babi hutan, kuskus pohon dan berbagai jenis reptilia.

Seluruh warga terasing itu tinggal di pohon-pohon dan dusun sagu yang tidak bisa dijangkau orang luar seperti misionaris, para peneliti maupun aparat pemerintah. Mereka dililit buta huruf, baik , menulis, membaca maupun berhitung) dan mereka hanya berbicara dalam bahasa ibunya.

Oleh karena itu, Bapak Pdt. Yosia Mirip berharap berbagai Misi Yayasan yang terbeban untuk menjangkau suku-suku terasing pedalaman papua yang hidup terisolasi di kawasan Mamberamo hingga kawasan Walele itu.

Sementara itu data pada Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK) Provinsi Papua menyebutkan masih terdapat 14 titik di Provinsi Papua dan Papua Barat yang dihuni warga suku terasing, namun jumlah sukunya pun belum dipastikan, sebab pada umumnya mereka tinggal di daerah pegunungan, lembah dan rawa-rawa, sehingga sulit untuk diidentifikasi penanganannya.

Ditemukan Suku-Suku Terasing di Pedalaman Mamberamo

TIM Penginjilan yang dipimpin oleh Pdt. Yosia Mirip, membenarkan, belakangan ini warga masyarakat menemukan sekelompok masyarakata yang dikatergorikan suku terasing, hidup mengembara di pedalaman Mamberamo sekitar 10-20 suku. Kelompok suku terasing itu, mengembara antara Walele Selatan,Turumo Utara, Nabire Barat dan pawi Timur mereka tidak mengetahui masuk kabupaten mana. Menurut Pdt. Yosia Mirip, masyarakat suku terasing ini memiliki postur badan tinggi, hidung mancung berkulit hitam bercampur sawo matang ada yang keturunan manusia pendek laki-laki maupun wanita, ada juga laki-laki seperti anjing sedangkan wanita normal dan masih banyak ciri fisik lain yang unik. Kehidupan mereka nomaden (berpindah-pindah) dengan menokok sagu dan berburu binatang untuk dikonsumsi. Pondok huniannya dibuat dari kayu bulat kecil-kecil beratap sagu, berlantai gagar nibung dan pelepah sagu. Kaum lelaki dan kaum perempuan mengenakan kulit kayu sebagai pengganti pakaian menutupi bagian dengan alat vital, sementara di belakangan pantat telanjang. Pdt. Yosia M mengemukakan, penciumannya yang tajam sebagai alat untuk mengetahui orang atau binatang buruan. Ketika mereka merasa ada orang luar di dekat alam kehidupan mereka, mereka berlari menyembunyikan diri di tempat yang dianggap masih sakral dan misteri. Suku terasing itu pernah disampaikan kepada pejabat pemerintah maupun LSM, agar meneliti lebih lanjut kepastian keberadaan suku terasing ini. Tetapi sampai sekarang tidak pernah dilakukan penelitian atau pengkajian yang lebih mendalam tentang keberadaan kehidupan warga masyarakat ini. Daerah penyebaran suku terasing itu, termasuk dalam wilayah Mamberamo yang beberapa tahun belakangan, TIM Penginjilan telah menjangkau beberapa suku-suku terasing tersebut sehingga sebagian masyarakat suku terasing yang nampak gambar diatas telah menerima kebenaran (bertobat).