TIM Penginjilan yang dipimpin oleh Pdt. Yosia Mirip, membenarkan, belakangan ini warga masyarakat menemukan sekelompok masyarakata yang dikatergorikan suku terasing, hidup mengembara di pedalaman Mamberamo sekitar 10-20 suku.
Kelompok suku terasing itu, mengembara antara Walele Selatan,Turumo Utara, Nabire Barat dan pawi Timur mereka tidak mengetahui masuk kabupaten mana.
Menurut Pdt. Yosia Mirip, masyarakat suku terasing ini memiliki postur badan tinggi, hidung mancung berkulit hitam bercampur sawo matang ada yang keturunan manusia pendek laki-laki maupun wanita, ada juga laki-laki seperti anjing sedangkan wanita normal dan masih banyak ciri fisik lain yang unik. Kehidupan mereka nomaden (berpindah-pindah) dengan menokok sagu dan berburu binatang untuk dikonsumsi.
Pondok huniannya dibuat dari kayu bulat kecil-kecil beratap sagu, berlantai gagar nibung dan pelepah sagu.
Kaum lelaki dan kaum perempuan mengenakan kulit kayu sebagai pengganti pakaian menutupi bagian dengan alat vital, sementara di belakangan pantat telanjang.
Pdt. Yosia M mengemukakan, penciumannya yang tajam sebagai alat untuk mengetahui orang atau binatang buruan. Ketika mereka merasa ada orang luar di dekat alam kehidupan mereka, mereka berlari menyembunyikan diri di tempat yang dianggap masih sakral dan misteri.
Suku terasing itu pernah disampaikan kepada pejabat pemerintah maupun LSM, agar meneliti lebih lanjut kepastian keberadaan suku terasing ini. Tetapi sampai sekarang tidak pernah dilakukan penelitian atau pengkajian yang lebih mendalam tentang keberadaan kehidupan warga masyarakat ini.
Daerah penyebaran suku terasing itu, termasuk dalam wilayah Mamberamo yang beberapa tahun belakangan, TIM Penginjilan telah menjangkau beberapa suku-suku terasing tersebut sehingga sebagian masyarakat suku terasing yang nampak gambar diatas telah menerima kebenaran (bertobat).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar