Pdt. Yosia Mirip
Ketabahan dan kegigihan menjadi kunci keberhasilan. Selama 10 tahun menjangkau suku terasing di tempat terpencil pedalaman Mamberamo.
TERIK mentari yang menerpa udara Walele, persisnya di kawasan Mamberamo, tak mengurangi rasa haru dan bahagia Pdt. Yosia Mirip. Keharuan membuncah di dada pria kelahiran Nabia, 12 Maret 1960 ini. Pdt. Yosia haru saat mengenang jalan panjang dan berliku sebagai hamba Tuhan. Masih tergambar jelas masa-masa sulit kali pertama ia diangkat jadi Ketua Tim Penginjilan pada 1998.
Pdt. Yosia Mirip yang tinggal di tanah kelahirannya, kampung Walele, Kecamatan Nabia, Kabupaten Intan Jaya, ketika melanjutkan pendidikan Theologi Water Post di Kota singkong Nabire, beliau mesti bolak-balik dari Nabire ke Pedalaman Mamberamo menempuh perjalanan hampir 5 hari 5 malam.
Sepuluh tahun lamanya Pdt. Yosia Mirip, bergumul dan bolak balik walaupun perjalanan kaki memakan waktu lima hari lamanya, syukur karena Kemurahan hati Allah beberapa masyarakat suku terasing bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru slamat pribadi mereka.
Kampung walele adalah yang sebagian besar dihuni masyarakat dari suku terasing yakni suku Bulibala. Masyarakat Bulibala kebanyakan tidak memiliki agama dan masih menganut animisme. “Mereka masih primitif. Secara administratif, tertulis mereka tidak beragama,” kata Pdt. Yosia Mirip sambil duduk menjangkau suku terasing, lihat Gbr diatas.
Meski penuh tantangan, Pdt. Yosia Mirip tetap bersemangat. ”Karena kegigihan, perjuangan dan kesabaran, semua tantangan bisa teratasi. Saya anggap sebagai ujian melihat sejauh mana kesabaran saya,” ungkapnya bijak.Pagi-siang, malam suka dan duka tidak menydutkan semangatnya, ia rela berjalan kaki menuju lokasi (Mamberamo), yang berjarak sekitar 150,000 kilometer dari kota Nabire.
Pdt. Yosia Mirip, berharap pihak-pihak yang terbeban/ peduli pada nasib masyarakat suku terasing didaerah-daerah terpencil tersebut bisa mendukung atau membuka pos pelayanan di daerah.
Banyak hal hanya satu yang kami sangat mengganjal di benaknya dan menjadi pergumulan selama ini, yaitu membutuhkan Dua unit Sensor serta bahan makanan dan obat-obatan untuk mendukung kegiatan penebangan/membuka lapangan terbang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar